A. Data Digital,
Sinyal-Sinyal Digital
Sebuah
data digital adalah serangkaian pulsa tegangan diskrit, Masing-masing pulsa
adalah sebuah elemen sinyal. Data biner ditransmisikan dengan mengkodekan
setiap bit ke dalam elemen-elemen sinyal. Jika elemen-elemen sinyal semuanya
memiliki tanda aljabar yang sama, yaitu positif atau negatif, maka sinyal
tersebut adalah unipolar. Pada pensinyalan polar, satu kondisi logika
direpresentasikan oleh tingkat tegangan positif, dan lainnya dengan dengan
tingkat tegangan negatif. Pada kecepatan pensinyalan data, atau kecepatan data,
dari sebuah sinyal adalah kecepatan dalam bit per detik, di mana data
ditransmisikan. Durasi atau panjang bit adalah jumlah waktu yang diperlukan
untuk transmitter memancarkan bit; untuk kecepatan data R, durasi bit
adalah 1/R. Sebaliknya, kecepatan modulasi adalah kecepatan di mana tingkat
sinyal diubah. Hal ini bergantung pada sifat alami pengkodean digital, seperti
yang dijelaskan sebelumnya. Akhirnya, istilah yanda dan ruang, untuk alasan
historis, mengacu pada digit biner 1 dan 0 secara berurutan. Tabel 5.1
meringkas istilah-istilah penting; hal ini seharusnya lebih jelas ketika
melihat sebuah contoh berikutnya, di bagian ini.
|
Istilah
|
Satuan
|
Definisi
|
|
Elemen data
|
Bit
|
Biner tunggal 1 atau 0
|
|
Kecepatan data
|
Bit per detik
|
Kecepatan di mana elemen-elemen data ditransmisikan
|
|
Elemen sinyal
|
Digital; sebuah pulsa teganngan dari amplitudo
konstanAnalog; sebuah pulsa dengan frekuensi, fase, dan amplitudo konstan
|
Bagian dari sinyal yang menggunakan interval terpendek
dari kode pensinyalan
|
|
Kecepatan pensinyalan atau kecepatan modulasi
|
Elemen-elemen sinyal per detik
|
Kecepatan di mana elemen-elemen sinyal ditransmisikan
|
Terdapat
faktor lin yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja, dan itu adalah
skema pengkodean. Skema pengkodean hanyalah sebuah pemetaan dari bit data ke
elemen sinyal. Berbagai pendekatan telah dicoba. Apa yang mengikutinya, kita
mendeskripsikan beberapa dari yang paling umum; mereka mendefinisikan dalam
tabel 5.2.
Nonreturn
to Zero-Level (NRZ-L)
0
= tingkat tinggi
1
= tingkat rendah
Nonreturn
to Zero Inverted (NRZI)
0
= tidak ada transisi dari permulaan interval (satu waktu bit)
1 = transisi pada awal interval awal
Bipolar-AMI
0 = tidak ada saluran sinyal
1= tingkat positif atau negatif,
bergantian secara berurutan
Pseudoternary
0 = tingkat positif atau negatif,
bergantian secara berurtan
1= tidak ada saluran sinyal
Manchester
0 = transisi dari tinggi ke rendah
di pertengahan interval
1 = transisi dari rendah ke tinggi
di pertengahan interval
Differential Manchester
Selalu sebuah transisi di
pertengahan interval
0 = transisi pada awal interval
1 = tidak ada transisi pada awal
interval
B8ZS
Sama dengan bipolar AMI, kecuali
string apa pun dari delapan nol dipindahkan oleh sebuah string dengan dua kode
pelanggaran
HDB3
Sama dengan bipolar AMI, kecuali
string apa pun dari empat nol dipindahkan oleh sebuah string dengan satu kode
pelanggaran
Sebelum mendeskripsikan
teknik-teknik ini, mari kita amati cara-cara berikut dari mengevaluasi dan
membandingkan berbagai teknik.
- Spektrum sinyal
Beberapa aspek dari spektrum sinyal
itu penting. Kurangnya komponen frekuensi tinggi berarti lebih kecil bandwidth
yang dibutuhkan untuk transmisi.
- Clocking
Kita menyebutkan kebutuhan untuk
memutuskan awal dan akhirnya dari masing-masing posisi bit. Hal ini bukanlah
tugas yang mudah. Satu pendekatan yang agak mahal adalah menyediakan jam
terpisah yan mengarahkan sinkronisasi transmitter dan penerima.
- Deteksi kesalahan
Bagaimanapun juga, adalah hal yang
berguna untuk memilliki kemampuan deteksi kesalahan yang ada dalam skema
pengkodean sinyal fisik. Hal ini memungkinkan kesalahan deteksi lebih cepat
- Interferensi sinyal dan kerentanan noise
Kode-kode tertentu memperlihatkan
kinerja superior dalam menghadirkan noise. Kinerja biasanya dinyatakan dalam
istilah BER
- Biaya dan kekompleksan
Meskipun logika digital terus jatuh
dalam harga, faktor ini seharusnya diabaikan. Khususnya semakin tinggi
kecepatan pensinyalan untuk mencapai kecepatan tertentu, semakin besar biaya
tersebut.
Teknik pengkodean sinyal digital :
- Nonreturn to Zero
Cara yang paling umum dan mudah
untuk mentransmisikan sinyal-sinyal digital adalah menggunakan tingkat tegangan
berbeda untuk dua digit biner. Kode-kode yang mengikuti strategi ini berbagi
sifat bahwa tingkat tegangan tersebut itu konstan selama interval bit; tidak
ada transisi (tidak ada yang kembali ke tingkat tegangan nol). Contohnya, tidak
ada tegangan dapat digunakan untuk mewakili biner 0, dengan tegangan positif
konstan digunakan untuk mewakili biner 1. Lebih umumnya, tegangan negatif
mewakili satu nilai biner dan tegangan positif mewakili lainnya. Kode yang
terakhir ini, dikenal dengan Nonreturn to zero-level (NRZ-L).
- Biner Multitingkat
Sebuah kategori dari teknik-teknik
pengkodean dikenal sebagai biner multitingkat yang menunjuk beberapa kekurangan
dari kode-kode NRZ. Kode-kode ini digunakan pada lebih dari dua tingkat sinyal.
- Biphase
Terdapat seperangkat lain
teknik-teknik pengkodean, dikelompokkan dalam istilah biphase, yang
mengatasi kelemahan dari kode-kode NRZ, Dua teknik ini,Manchester dan
differentialManchester. Pada kodeManchester, terdapat sebuah transmisi di
pertengahan masing-masing periode bit. Transmisi midbit tersebut berperan
sebagai mekanisme clocking dan juga sebagai data; transisi rendah ke tinggi
mewakili 1, dan transisi tinggi ke rendah mewakili 0. Pada
differentialManchester, transisi midbit digunakan hanya untuk menyediakan
clocking, Pengkodean 0 diwakili dengan adanya transisi di awal dari periode
bit. Dan 1 diwakili dengan tidak adanya transisi pada awal periode bit.
DifferentialManchester telah menambahkan keuntungan dari menggunakanpengkodean
differential.
- Kecepatan Modulasi
Ketika teknik pengkodean sinyal
digunakan, perbedaan perlu dibuat antara kecepatan data ( dinyatakan dalam bit
per detik) dan kecepatan modulasi (dinyatakan dalam baud).
Teknik-Teknik Scrambling
Meskipun teknik-teknik biphase telah
mencapai penggunaan meluas dari aplikasi Local Area Network pada kecepatan data
yang relatif tinggi (sampai 10 Mbps), mereka belum digunakan secara luas dalam
aplikasi-aplikasi jarak jauh. Alasan utama untuk hal ini adalah mereka
membutuhkan kecepatan pensinyalan tinggi relatif terhadap kecepatan data. Jenis
ketidakefisienan ini lebih mahal dibandingkan aplikasi jarak jauh. Pendekatan
lain adalah menggunakan beberapa jenis skema scrambling.
B. Data Digital, Sinyal-Sinyal
Analog
Sekarang, kita beralih pada kasus
pentransmisian data digital menggunakan sinyal-sinyal analog. Penggunaan yang
paling umum dari transformasi ini adalah mentransmisikan data digital melalui
jaringan telepon umum. Jaringan telepon didesain untuk menerima, mengalihkan,
dan mentransmisikan sinyal-sinyal analog dengan frekuensi suara sekitar
300-3400 MHz. Untuk saat ini, hal itu belum sesuai untuk menangani sinyal-sinyal
digital dari lokasi pelanggan (meskipun hal ini mulai berubah). Dengan
demikian, perangkat digital yang dipasang ke jaringan melalui sebuah modem
(modulator-demodulator), yan mengubah data digital menjadi sinyal-sinyal
analog, dan sebaliknya. Kita menyebutkan bahwa modulasi dipengaruhi satu atau
lebih dari tuga karakteristik sinyal pembawa; amplitodo, frekuensi, dan fase.
Jadi, terdapat tiga pengkodean dasar atau teknik modulasi untuk mengubah data
digital menjadi sinyal-sinyal analog seperti; amplitudo shift keying (ASK),
frequency shift keying (FSK), dan phase shift keying (PSK).
a. Amplitudo Shift
Keying (ASK)
Teknik ASK digunakan untuk
mentransmisikan data digital sepanjang serat optik. Untuk transmitter LED
(light-emiting diode). Hal itu berarti satu elemen sinyal direpresentasikan
oleh sebuah pulsa cahaya, sedangkan elemen sinyal lainnya direpresentasikan
oleh tidak adanya cahaya.
b. Frequency Shift Keying (FSK)
Bentuk yang paling umum dari FSK
adalah FSK biner (binary FSK-BFSK), di mana nilai dua biner
direpresentasikan oleh dua frekuensi berbeda yang dekat dengan frekuensi
pembawa. BFSK lebih rentan terhadap kesalahan dibandingkan ASK. Pada jalur
kelas suara, BFSK umumnya digunakan hingg 1200 bps, BFSK juga umum digunakan
untuk transmisi radio befrekuensi tinggi (3-30 MHz). Bahkan, BFSK juga dapat
digunakan pada frekuensi yang lebih tinggi pada local area network yang
menggunakan kabel koaksial. Sebuah sinyal yang lebih efisien bandwidth, tetapi
juga lebih rentan terhadap kesalahan adalah multiple FSK (MFSK). Di
mana, lebih dari dua frekuensi yang digunakan.
c. Phase Shift Keying
(PSK)
Pada PSK, fase sinyal pembawa
berpindah untuk mewakili data.
- PSK Dua-Level
Skema paling sederhana yang
menggunakan dua phase untuk mewakili dua digit biner dikenal sebagai binary
fase shift keying. Sebuah bentuk alternatif dari PSK dua-level adalah
differentiaal PSK(DPSK)
- PSK Empat-Level
Penggunaan bandwidth yang lebih
efisien dapat dicapai jika setiap elemen pensinyalan merepresentasikan lebih
dari satu bit. Sebagai contoh, alih-alih sebuah fase berputar 180°, sebagaimana
yang diperbolehkan BPSK, sebuah teknik pengkodean umum, yang dikenal sebagai quadrature
phase shift keying QPSK).
- PSK Multi-Level
Penggunaan dari banyak level dapat
diperluas lebih dari mengambil dua bit dalam satu waktu. Sangat mungkin untuk
mentransmisikan tiga bit pada satu waktu menggunakan delapan sudut fase yang
berbeda. Lebih jauh lagi, setiap sudut dapat memiliki lebih dari satu
amplitudo. Sebagai contoh, modem standar 9600 bps menggunakan 12 sudut fase,
empat di antaranya memiliki dua nilai amplitudo, untuk keseluruhan 16 elemen
sinyal yang berbeda.
C. Data Analog, Sinyal-Sinyal Digital
Proses yang mengubah data analog ke
data digital disebut dengan digitisasi. Ketika data analog telah dikonversi
dalam data digital, sejumlah hal dapat terjadi. Tiga hal yang paling umum
adalah :
- Data digital dapat ditransmisikan menggunakan NRZ-L.
- Data digital dapat dikodekan sebagai sebuah sinyal digital menggunakan sebuah kode yang berbeda dari NRZ-L. Dengan demikian dibutuhkan satu langkah tambahan
- Data digital dapat dikonversikan ke dalam sinyal analog, menggunakan satu dari teknik modulasi,
Perangkat yang digunakan untuk
mengubah data analog menjadi bentuk digital, dikenal sebagai codec (coder-decoder)
. Teknik utama yang digunakan dalam codec adalah modulasi pulsa dan modulasi
delta.
1.
Pulse Code Modulation
Pulse Code Modulation (PCM)
didasarkan pada teori sampling berikut. Jika sebuah sinyal f (t)
disampel pada interval waktu teratur pada kecepatan yang lebih tinggi dua kali
dibandingkan dengan frekuensi sinyal tertinggi, maka sampel tersebut memuat
segala informasi dari sinyal yang asli. Fungsi f (t) dapat direkontruksi
dari sampel-sampel ini dengan penggunaan penyaring lolos-rendah (low-pass
filter). Jika data suara dibatasi pada frekuensi di bawah 4000 Hz, prosedur
lama dapat menjelaskannya, 8000 sampel per detik akan cukup mengkarakteristikan
sinyal suara dengan lengkap. Patut dicatat bagaimanapun juga, bahwa
sampel-sampel analog ini disebut sampel pulse amplitude modulation (PAM) atau
modulasi amplitudo pulsa. Untu mengubah menjadi digital, masing-masing dari
sampel analog ini harus ditandai dengan suatu kode biner.
2.
Modulasi Delta
Berbagai teknik telah digunakan
untuk meningkatkan kinerja PCM atau untuk mengurangi kerumitannya. Satu dari
alternatif yang paling populer dari PCM adalah modulasi Delta (Delta
modulation-DM). Dengan modulasi delta, sebuah input analog diaproksimasi
dengan sebuah fungsi tangga yang bergerak naik turun dengan satu tingkat
kuantitas δ pada masing-masing interval sampling (T).
3.
Data Analog, Sinyal-Sinyal Digital
Terdapat dua alasan penting untuk
modulasi analog ke sinyal digital :
- Frekuensi yang lebih tinggi dibutuhkan untuk transmisi yang efektif. Untuk transmisi tak terkendali, secara maya tidak mungkin mentransmisikan sinyal baseband karena antena-antena yang dibutuhkan harus memiliki diameter berkilo-kilo meter.
- Modulasi memperbolehkan frequency divosion multiflexing.
d. Modulasi Amplitudo
Modulasi amplitudo (Amplitude
Modulation-AM) adalah bentuk yang paling sederhana dari modulasi
e. Modulasi Sudut
Modulasi frekuensi atau freqency
modulation (FM) dan modulasi fase atau phase modulation (PM)
merupakan kasus spesial dari modulasi sudut.
No comments:
Post a Comment